Remaja Semakin Jarang Bergerak, Kenapa Harus Peduli? Coba perhatikan satu hari saja: pulang sekolah, duduk, buka HP, lalu tiba-tiba sudah malam. Pola ini terlihat sepele, tetapi disinilah mulai muncul bahaya kurang gerak bagi remaja tanpa terasa. Tubuh yang seharusnya aktif malah terlalu sering diam, dan efeknya tidak cuma soal berat badan.
Remaja sedang berada di fase tumbuh kembang yang sangat cepat. Jika di fase ini tubuh jarang dipakai bergerak, banyak fungsi penting jadi tidak terlatih. Akhirnya, dampak kurang gerak bisa menumpuk pelan-pelan dan baru terasa ketika sudah mengganggu aktivitas harian.
Bahaya Kurang Gerak bagi Remaja pada Tubuh
Salah satu bahaya kurangnya bergerak bagi remaja yang paling terasa adalah badan mudah lemas. Otot jarang dipakai, jantung jarang “dilatih”, aliran darah jadi kurang lancar. Remaja bisa merasa cepat capek hanya karena naik tangga satu lantai atau berjalan sedikit lebih jauh.
Selain itu, kurang gerak juga bisa memicu penumpukan lemak tubuh. Jika dibiarkan, risiko obesitas, kolesterol tinggi, bahkan tekanan darah tinggi bisa muncul lebih awal. Terbayang kan, masih remaja tapi sudah sering pusing, engap, atau gampang pegal seperti orang jauh lebih tua.
Dampak Kurang Gerak pada Kesehatan Mental
Bahaya kurang gerak bukan hanya soal fisik, tetapi juga kesehatan mental. Ketika tubuh jarang bergerak, produksi hormon bahagia seperti endorfin berkurang. Remaja bisa merasa lebih mudah cemas, murung, atau kesulitan merasa bersemangat, padahal tidak ada masalah besar yang jelas.
Gerak ringan seperti jalan cepat, stretching, atau bermain olahraga sederhana sudah bisa membantu memperbaiki mood. Banyak remaja yang melaporkan mereka lebih tenang setelah berolahraga sebentar. Jadi, aktivitas fisik bisa menjadi “ventilasi” emosi yang sehat, bukan hanya tugas tambahan yang melelahkan.
Kurang Gerak, Prestasi Belajar Bisa Turun
Menariknya, kemalasan gerak bagi remaja juga berkaitan dengan konsentrasi dan prestasi belajar. Saat tubuh terlalu sering duduk diam, otak tidak mendapatkan suplai oksigen optimal. Akibatnya, remaja lebih mudah mengantuk, sulit fokus di kelas, atau lambat menangkap materi baru.
Sebaliknya, remaja yang rutin bergerak biasanya memiliki aliran darah ke otak yang lebih baik. Mereka cenderung lebih sigap, responsif, dan tidak cepat jenuh. Jadi, bergerak bukan berarti mengurangi waktu belajar, tetapi justru bisa membuat waktu belajar lebih efektif.
Tanda-Tanda Remaja Mulai Kurang Gerak
Ada beberapa tanda sederhana yang bisa menjadi alarm kurangnya bergerak. Misalnya, nafas sudah terengah hanya karena lari sebentar atau mengejar angkot. Atau badan sering pegal di leher dan punggung karena terlalu lama duduk dengan posisi yang sama.
Tanda lain yang sering muncul adalah sulit tidur nyenyak dan merasa lelah sepanjang hari. Padahal, logikanya kalau banyak diam harusnya tidak capek. Di sinilah tubuh memberi sinyal bahwa pola aktivitas harian sudah tidak seimbang dan perlu lebih banyak gerak.
Cara Sederhana Mengatasi Malas Bergerak
Kabar baiknya, mengurangi bahaya kurang gerak tidak selalu butuh olahraga berat atau langganan gym. Remaja bisa mulai dari hal sesederhana jalan kaki 10–15 menit setelah belajar. Naik tangga, bukan lift, juga bisa menjadi latihan ringan yang efektif jika dilakukan rutin.
Selain itu, coba atur jeda gerak setiap 30–45 menit ketika duduk belajar atau menggunakan gadget. Berdiri, stretching sebentar, atau berjalan mengambil minum saja sudah membantu tubuh “bangun”. Kunci terpenting: konsisten, bukan sempurna. Sedikit gerak setiap hari jauh lebih baik daripada menunggu waktu “ideal” yang tidak pernah datang.

